Persaingan E-Wallet di Indonesia Selama Pandemi Covid-19


Thumbnail

Kebiasaan masyarakat Indonesia dalam bertransaksi yang semula dilakukan secara tunai kini berubah menjadi secara non tunai selama pandemi covid-19 berlangsung. Transaksi non tunai ini dilakukan dengan menggunakan uang elektronik atau e-money. 

Sesuai dengan peraturan BI Nomor 20/6/PBI/2018 tentang Uang Elektronik, Bank Indonesia membagi e-money kedalam 2 jenis kategori berdasarkan media penyimpanannya yaitu chip based dan server based. Contoh e-money berdasarkan chip based seperti Flazz BCA, E-Money Mandiri, Brizzi BRI, Tap Cash BNI, Blink BTN, Mega Cash, dan JakCard Bank DKI. Sementara e-money berdasarkan server based seperti GoPay, OVO, LinkAja, Doku, dan DANA. Server based ini biasa disebut dengan dompet digital atau e-wallet. 

Dibawah ini terdapat grafik pertumbuhan transaksi uang elektronik selama pandemi covid-19 yang telah memasuki Indonesia.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, jumlah transaksi uang elektronik di Indonesia telah mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 59% selama bulan Januari sampai dengan bulan Juli, tahun 2019 dan 2020. Hal ini menandakan bahwa semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang melakukan transaksi non tunai untuk mengurangi kontak fisik secara langsung sehingga dapat meminimalisir penularan virus covid-19 yang sedang terjadi sampai saat ini.

Menurut hasil riset yang dilakukan oleh Ipsos, sebanyak 71% pengguna e-wallet adalah generasi muda yang pada awalnya, penggunaan e-wallet tersebut hanya karena banyaknya promosi apabila melakukan transaksi di berbagai jenis merchant. Dikarenakan penggunaan e-wallet ini dirasa aman, nyaman, dan efisien, jadi pengguna e-wallet sekarang semakin banyak digunakan. Awalnya e-wallet ini digunakan oleh hanya sebagian kaum milenial tertentu seperti milenial yang berpendidikan atau yang memiliki penghasilan antara Rp 1,25 juta sampai Rp 5 juta, namun saat ini hampir semua milenial sudah menggunakannya. 

Dalam penelitian ini, Ipsos melibatkan 500 responden di lima kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Palembang dan Manado. Penelitian ini juga dilakukan dengan wawancara tatap muka secara langsung dengan para responden.

Dibawah ini merupakan grafik yang menunjukkan posisi e-wallet paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. 

Sumber : Databoks

Hasil riset yang dilakukan oleh iPrice dan App Annie menunjukkan bahwa dompet digital yang dikeluarkan Gojek yaitu Gopay, menduduki peringkat 1 sejak Q2 2019 hingga Q2 2020. Peringkat selanjutnya diikuti oleh OVO, DANA, dan LinkAja yang berhasil unggul selama empat kuartal berturut-turut. 

Untuk peringkat selanjutnya e-wallet dengan pengguna aktif bulanan terbanyak dari posisi 5 hingga ke 10 untuk periode Q2 2020 diduduki oleh Go Mobile by CIMB, i.saku, JakOne Mobile Bank DKI, Doku, Sakuku, dan Paytren.

Simak lebih lanjut mengenai 4 e-wallet dengan jumlah pengguna aktif terbanyak yang berhasil unggul selama 4 kuartal berturut-turut sejak periode Q2 2019 – Q2 2020.

GOPAY

Gopay berhasil memimpin pasar dompet digital di Indonesia. Hasil riset iPrice menjelaskan bahwa sebanyak 60% responden menyebutkan mereka menggunakan Gopay sebagai e-wallet pertama. Selain itu, gopay juga memiliki user terbanyak sebesar 54%, dimana walaupun sudah tidak ada promo atau cashback yang ditawarkan, pengguna Gopay masih tetap menggunakan Gopay sebagai alat transaksi mereka.

Peningkatan transaksi selama masa pandemi covid-19 berasal dari masyarakat yang melakukan pembayaran tagihan bulanan melalui GoBills, GoPulsa, pembelian voucher game online dan transaksi online lainnya. Selain itu, peningkatan transaksi disebabkan karena meningkatnya pelaku UMKM yang kini beralih menggunakan pembayaran non tunai dengan Gopay, mendaftarkan tokonya ke GoShop, dan memanfaatkan pengantaran barang melalui GoSend. 

OVO

Dari 10 e-wallet dengan pengguna aktif terbanyak, OVO berhasil menempatkan peringkat kedua. Melesatnya transaksi OVO selama pandemi dikarenakan adanya peningkatan transaksi pada sektor e-commerce, kuliner, dan pengiriman barang. Peningkatan transaksi pada sektor e-commerce mencapai angka lebih dari 100%. Hal ini terjadi karena adanya konsekuensi dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengakibatkan masyarakat cenderung memilih tidak keluar rumah.

Hingga saat ini, OVO telah memiliki lebih dari 600.000 merchant di 373 kota di Indonesia. OVO telah diunduh oleh 115 juta perangkat dan bisa digunakan untuk mengakses pembayaran, transfer, top-up, tarik dana, serta manajemen aset dan investasi.

DANA

Platform dompet digital yang dimiliki oleh PT Espay Debit Indonesia Koe, DANA, berhasil memasuki posisi ke 3 dari 10 dompet digital dengan pengguna aktif terbanyak. Dilansir dari Kompas.com, CEO & Co-Founder DANA Vincent Iswara mengatakan, selama masa pandemi, transaksi di DANA mengalami peningkatan sebesar 15%. Kenaikan itu terjadi didukung oleh banyaknya transaksi yang dilakukan masyarakat secara online seperti pembayaran tagihan, pengiriman uang, dan pembelian pulsa.

LinkAja

Salah satu dompet digital milik BUMN ini berhasil menduduki posisi ke 4 pengguna aktif e-wallet terbanyak sejak periode Q2 2019 hingga Q2 2020. LinkAja merupakan gabungan dari uang digital beberapa BUMN antara lain Telkomsel dengan layanan T-Cash, PT Bank Mandiri Tbk (e-Cash), PT Bank Rakyat Indonesia atau BRI (T-Bank dan My QR), dan Bank Negara Indonesia atau BNI (UnikQu dan Yap!).

LinkAja memiliki hampir 50 juta pengguna yang tersebar di lebih dari 90% wilayah di seluruh Indonesia. Sebanyak 83% pengguna LinkAja tersebar di luar Jakarta, dengan 40% pengguna di antaranya berada di luar pulau Jawa.

Kini MPS hadir untuk menjadi solusi yang dapat menjawab kebutuhan merchant Internal Telkom karena MPS sudah menyediakan berbagai metode pembayaran seperti e-wallet yang memudahkan pelanggan Anda dalam melakukan pembayaran. Selain itu konfirmasi pembayaran secara otomatis akan diberitahukan oleh MPS kepada merchant Anda secara real time

Maka dari itu, yuk segera integrasikan merchant Anda dengan Kami!